Sabtu, 27 Juli 2013

Pisahkan Narapidana Berdasarkan Jenis Kejahatannya di Tanjung Gusta



Presiden PHP : HMK Aldian Pinem, SH, MH
Pisahkan Narapidana Berdasarkan Jenis Kejahatannya


                Permasalahan Lembaga Permasyarakatan  (Lapas) Tanjung Gusta cukup kompleks. Komunikasi internal narapidana yang bersifat dua arah dan hubungan saling mempengaruhi menjadi pemicu terjadinya kehebohan di Lapas. Itulah sebabnya mencampuradukkan narapidana menjadi satu tanpa melihat jenis kejahatannya mengakibatkan terjadinya komunikasi yang saling mempengaruhi dalam membuat gerakan yang menghebohkan Lapas.
Demikian disampaikan oleh Presiden Perjuangan Hukum dan Politik (PHP) HMK Aldian Pinem, SH, MH dalam tanggapannya pasca 2 minggu Lapas Tanjung Gusta rusuh dan terbakar.
“Narapidana korupsi, teroris, pembunuhan berencana, pelanggaran HAM berat, kejahatan umum dan narkoba harus dipisahkan. Untuk mengantisipasi kejadian serupa tidak terulang kembali, lebih baik pisahkan narapidana berdasarkan jenis kejahatannya. Kalau disatukan maka  komunikasi narapidana ini cepat terbentuk dan saling mempengaruhi berbuat kejahatan di penjara. Saya menduga narapidana narkoba yang fustrasi dan dijatuhi hukuman berat yang ikut mempengaruhi narapidana dan menggerakkan kerusuhan dan pembakaran Lapas Tanjung Gusta ini.
Tidak itu saja, jumlah napi yang melebih kapasitas lapas ditengarai sebagai salah satu faktor mudahnya napi terpancing emosi. Disarankan agar pemerintah memperbaiki manajemen Lapas agar menjadi lebih baik dan lebih manusiawi dengan program yang betul-betul mendidik, seseorang kalau sudah kembali dari lapas tidak ada keinginan untuk ke lapas lagi, ujar HMK Aldian Pinem, SH, MH.

Selasa, 09 Desember 2008

Wisata Kuliner di Kota Medan

Makanan Lezat Tidak Hanya di Mall Dan Hotel

Kota Medan terkenal dengan beragam jenis makanan. Hidangan lezat dengan harga terjangkau dapat anda temukan di warung, mall hingga restoran.

Ada mie tiau enak di kota Medan. Salah seorang penjualnya yang cukup dikenal di kota Medan adalah Machmud Siregar. Warungnya terletak di Jalan Abdullah Lubis, persis di depan Masjid Abdullah Lubis. Selain mie tiau, Machmud menjual sekitar 76 masakan lain di warungnya.

Pengamatan Penulis, warung Mahmud ramai dikunjungi setiap harinya. Menu khas yang paling terkenal adalah mie ayam jamur. Menurut seorang kokinya, campuran bumbu kuetiaw berupa bawang putih, bawang merah, merica, cabe giling, dan jahe. Agar lebih sedap lagi ditambahkan daun bawang, kol, sawi, dan tomat. Semua bumbu itu ditumis lalu ditambahkan telur. Setelah itu baru dimasukkan mie tiau, kecap, dan bumbu penyedap. Sebagai pelengkap, ditambahkan kerupuk, timun, dan ayam yang disuwir-suwir atau udang, dan bakso. Mie tiau biasa disantap bersama acar agar lebih enak. Harganya jangan kuatir, masih bisa terjangkau kocek dan rasanya sangat lezat.

Kalau mau makan mi rebus keling, hmmm… bisa ditemukan di seputar kawasan Kampung Keling, Medan. Letaknya di Jalan Pagaruyung yang mulai buka sejak sore hingga larut malam dan menjadikannya sebagai salah satu kawasan jajanan malam di kota Medan. Salah satu penjualnya adalah Budi. Ia menjajakan dagangannya di belakang Hotel Tiara Medan.

Bahan dasar mie ala Budi sama seperti mie rebus biasa. Namun ke dalamnya ditambahkan taoge, selada, irisan kentang, tahu, ketimun, telur, serta ditaburi seledri dan kerupuk. Sebagai pelengkap, bisa ditambahkan perkedel jagung atau rempeyek. Semua itu disiram dengan saus khusus.

Saus inilah yang memberi ciri khas pada mie keling. Bahan dasarnya terdiri dari udang giling plus bumbu-bumbu lain. Untuk mengentalkannya digunakan tepung kanji. Bumbu saus mie keling memang istimewa. Konon, resepnya juga asli diciptakan nenek moyang masyarakat Keling di India. Sekedar info bagi anda yang bukan warga Medan, "orang keling" yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah mereka WNI keturunan India yang berkulit hitam dan memiliki komunitas cukup banyak di kota Medan.

Dari harga jual Rp. 1.000,- per porsi dulunya, sekarang harga mie Keling sudah menjadi Rp. 3.500 per porsi. Setiap hari dagangan Anton bisa laku 200 - 300 piring. Untuk itu dibutuhkan kira-kira 10 - 15 kilogram mie. Satu kilogram mie bisa menghasilkan 15 piring.

Wisata Kuliner di Mall

Beragam jenis makanan juga merambah ke pusat-pusat belanja modern atau mall, yang menawarkan aneka racikan kuliner khas Sumatera Utara, masakan Indonesia hingga hidangan dari berbagai belahan dunia.

Tempat shopping di kota Medan telah menjadi sarana belanja kuliner dalam bentuk warung, cafe hingga area khusus makanan yang lazim disebut food court. Plaza Medan Fair memanfaatkan kesempatan ini sebagai sarana wisata dan bermain keluarga. Di plaza ini makanannya lengkap dan nikmat, Medan Fair Plaza memang menjadi pilihan salah satu lokasi wisata kuliner di Kota Medan.

Di Plaza Medan Fair tersedia counter
fast food ternama seperti KFC, A&W, Pizza Hut dan lainnya. Sedangkan di lantai empat, terhampar area food court yang luasnya sekitar 1.000 meter2. Di area ini, Anda bisa menikmati beragam menu masakan tradisional, chinese dan internasional. Ada counter seperti bakmi raos, pondok selera, traditional food dan jenis makanan lainnya.

Di lantai duanya tersedia exebition cafe yang menghadirkan gerai-gerai branded yang cocok untuk dinikmati seperti Kilinei, Kopi Tiam, Roti Mom, Baskin Robin, Bengawan Solo Coffee dan lainnya. Ada juga warung Solaria yang menyediakan beragam menu makanan dan warung khusus makanan Thailand bernama Thai Express.

Food court Plaza Medan Fair dirancang dengan nuansa yang lapang dan menghibur. Tersedia big screen dengan jaringan TV kabel Astro, bisa berkaraoke dan dijadwalkan setiap akhir pekan ada live band. Suasana makin lengkap dengan adanya hot spot, layanan koneksi internet gratis, yang bisa dimanfaatkan pengunjung food court mereka.

Masakan Khas Batak

Kalau Anda gemar makan ikan, terutama ikan mas, Anda harus mencoba Nani Arsik dan Natinombur. Kelebihan kedua masakan ini terletak pada penggunaan bumbu yang khas Batak, seperti bawang batak, kincung, andaliman di samping bumbu lainnya seperti lengkuas, kunyit, bawang merah dan kemiri. Bumbu tersebut ditaruh di atas ikan yang sudah dibersihkan, kemudian diungkep sampai matang, jadilah nani arsik. Dengan bumbu yang sama, kemudian dibakar, jadilah Natinombur.

Selain di rumah makan daerah dan restoran khas batak di Medan, masakan ini dapat ditemukan di Hotel Tiara Medan. Bahkan, pihak hotel tak segan-segan menampilkan menu yang kabarnya jarang disediakan oleh rumah-rumah makan khas daerah di Medan.

Masakan khas Batak Toba ini bahan utamanya bisa dari ikan mas, ikan nila, ayam, atau daging. Nah, bumbu-bumbunya ini asli dari tetumbuhan Batak sehingga dia dinamakan masakan khas Batak. Jenis bumbunya seperti bawang Batak, arsik, andaliman, kincung, kemiri, lengkuas, kunyit, dan bawang merah. Cara memasaknya tergolong unik. Ikan dilumuri bumbu dulu baru diungkep sampai matang. Setelah matang pun, tidak boleh dibuka supaya keharumannya tetap terjaga," jelas Budi sang koki yang mengatakan lebih enak lagi kalau dimasak secara tradisional menggunakan kayu bakar.

Masakan Batak Toba yang bukan ikan, salah satunya adalah nani lomang. Bahan dasarnya ayam atau daging giling. "Digilingnya pun agak kasar, tapi jangan terlalu halus. Daging dimasak dengan campuran bumbu bawang putih, bawang merah, dan santan kental," katanya lagi.

Setelah dicampur bumbu, lantas dimasak dalam bambu muda. Maksudnya, "Dibakar seperti lemang. Waktu masaknya relatif singkat. Cukup satu setengah menit. Makanya aroma bambu harus terasa," ujarnya mantap. Ikan Mas Nati Nombur mirip dengan arsik. Cuma bumbunya tanpa kunyit. Setelah bumbu digiling, lantas disiram di atas ikan dan siap dibakar. emm yummy...

Anda punya pengalaman seputar kuliner Medan ???


Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara (Sumut) terletak di jalan HM Joni No. 51 Medan, Propinsi Sumatera Utara, Indonesia. Museum Sumatera Utara (Sumut) memiliki koleksi patung pengantin beserta ornamen-ornamenya dari suku-suku utama di Sumatera Utara seperti Melayu, Batak Toba, Karo, Simalungun, Angkola, Mandailing, Pak-Pak, dan Nias.

Sejak peresmianya pada tahun 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musuem Sumatera Utara telah memiliki 6.799 koleksi benda bersejarah yang terbagi menjadi 10 jenis, yakni koleksi geologika, berupa koleksi jenis batuan, benda-benda bentukan alam serta aneka mineral batuan. Kemudian ada pula koleksi biologika, koleksi etnografika yang menggambarkan identitas etnis di Sumatera Utara.

Koleksi museum Sumatera Utara lainnya seperti arkeologika, benda-benda hasil peninggalan budaya masa pra sejarah sampai masuknya pengaruh budaya barat.Koleksi arkeologika yang terkenal di museum ini di antaranya, Piringsapa serta Pustaha Lak-lak peninggalan budaya Batak Toba. Selebihnya ada koleksi historika, numismatika, filologika, keramologika, seni rupa dan yang berteknologika.

Koleksi Perjuangan Raja Sisingamaraja XII

Ketika berkunjung ke Museum Sumatera Utara (Sumut) ditemukan sejumlah koleksi benda-benda tradisional seperti ulos Batak Toba, peti mati yang disebut rumaruma atau parmual - mualan solu bolon beserta simbolik bentuk, ornamennya. Museum juga memiliki koleksi benda peninggalan sejarah perjuangan Sisingamaraja XII.

Peninggalan itu berupa Selendang Tenunan Sunting Miriam (Isteri Sisingamaraja XII) pada waktu ditawan Belanda. Selendang merah ditenun oleh Sunting Miriam untuk mengisi waktu senggangnya sebagai kenang-kenangan atas penderitaan yang dialaminya sampai tahun 1935. Di museum ini juga terdapat duplikat bendera perang Sisingamaraja XII.

Dari catatan sejarah yang ditempel bersebelahan dengan peninggalan Raja Sisingamaraja XII diketahui bahwa Raja memiliki prinsip yang berbeda dengan ayahnya. Untuk mengabadikan perjuangan Raja Sisingamaraja, benda-benda sejarah ini dipajang menambah koleksi Museum Sumatera Utara di Medan.